Sunday, November 8, 2015

Install OS X El Capitan Membuat Macbook Pro Error

Waktu itu saya mencoba meng-update OS Macbook saya ke OS terbaru, OS X El Capitan. Karena cukup besar, sekitar 6GB, proses download memamkan waktu yang tidak sedikit, apalagi saya download di kantor dengan internet yang suka error. Ketika proses download, computer saya tinggalkan dan charger lupa saya colokkan. Saya pun kaget ketika kembali laptop sudah mati dan mendapatinya sudah error. Ketika mencoba log in, maka akan muncul tulisan berupa kode-kode dan dalam beberapa detik laptop restart sendiri. Hal itu terjadi setiap saat saya log in.

Saya pun panic setengah mati karena data-data kerjaan dan file pribadi ada disana semua, apalagi saya tinggal di Bengkulu yang notabene tidak ada tempat servis produk apple. Semua hal dilakukan, mencoba restart, mematikan laptop, dan lain-lain tapi hasilnya nihil. Kemudian saya coba cari informasi di Google serta membaca kembali buku manual Macbook.

Dari situ kemudian saya temukan cara untuk menghidupkan kembali OS yang error. Caranya adalah sebagai berikut:

Wednesday, October 14, 2015

Penyetaraan Ijazah Luar Negeri di DIKTI

Bagi teman-teman yang pernah sekolah di luar negeri dan akan melanjutkan sekolah yang lebih tinggi, mencari pekerjaan sebagai PNS, atau agar diakui gelarnya dalam karir (PNS) pasti wajib menyetarakan atas ijazah dan transkrip yang telah didapatkan. Berikut adalah pengalaman saya menyetarakan ijazah dan transkrip di DIKTI, semoga bermanfaat.
Apa yang perlu dilakukan?
  1. Kita perlu mendaftarkan diri (sign up) terlebih dahulu di website dikti (link) dan mengisi formulir untuk mendapatkan nomor antrian.Pengalaman saya waktu itu beberapa kali mencoba mendaftar tapi sempat gagal selama dua hari. Namun pada hari ketiga akhirnya bisa. Sepertinya website sedang error. Apabila kita sudah mencoba mendaftar tetapi selalu gagal, maka bisa langsung datang saja dan minta didaftarkan disana atau langsung bertemu dengan verifikator.
  2. Datang ke DIKTI pada tanggal yang telah dijanjikan sewaktu mengisi pendaftaran online.Alamat DIKTI adalah sebagai berikut: Gedung D, Jln. Raya Jend Sudirman Pintu I,  Senayan Jakarta 10270  Telp: (021) 57946105  Email: dikti@dikti.go.id Gedung D berada tepat di sebelah FX, seberang Gelora Bung Karno. Pengalaman saya waktu itu ketika mengalami masalah dengan pendaftaran diwebsite sudah saya coba telpon namun tidak pernah diangkat serta sudah saya email namun tidak juga ada balasan. Inilah salah satu kekurangan pelayanan DIKTI pertama yang saya temukan. Saya juga telah mentioned di akun DIKTI di Twitter tapi juga tidak mendapatkan balasan.

Thursday, February 26, 2015

Surat untuk Rose


Hujan sedari tadi tak jua kunjung berhenti. Tetesannya membasahi jalanan, melelehkan salju yang menutupi trotoar semenjak seminggu yang lalu. Hujan pertama di akhir musim dingin kali ini, menandai berakhirnya winter yang cukup membuatku beku. Dingin tahun ini hampir berlalu, namun tidak dengan dirimu yang tetap saja begitu. Sempat kuharapkan datangnya musim semi kan menghangatkan hatimu, hati kita, setelah sekian lama tak jua berada dalam titik temu. Hujan menemaniku, menuliskan curahan hati yang kuharap kan membuatmu mengerti. Kupandangi jendela, menembus awan gelap sana, dari apartemenku lantai dua puluh lima. Puluhan orang berlalu lalang di seberang jalan, hiruk pikuk kota metropolitan yang selalu membuatku termenung dalam angan. Aku hanya bisa merasakan sepinya batin, kosongnya harapan, dan kelamnya asa.
Rose, sore ini begitu indah. Tidakkah kau ingin menghabiskan waktu denganku. Berbincang di kedai kopi tempat kita biasa berbagi. Membunuh waktu bersama, bercengkrama tentang hidup, menertawakan kebodohan dan kesalahan kita, berbagi tangis saat kau tak mampu menahannya. Biasanya kuberikan kau sebatang coklat kesukaanmu untuk membuatmu tersenyum, coklat Eropa yang hanya ada di gerai sebrang Ashland Street seberang tak jauh dari tempat tinggalku berada.

Monday, December 22, 2014

Filosofi Daun Kelor

Tak kusangka aku bertemu kau seperti ini, di dunia baru yang tak pernah kuketahui, tak ada dalam bayang, di benakku terangan. Pertama kulihat dirimu, dari kejauhan sana nampaklah engkau bercahaya, berbeda dari kumpulan berjalan beriringan. Aku terdiam saat itu, kuhentikan kayuhan sepedaku diujung pertigaan jalan, menunggumu lewat didepanku. Tak kukedipkan kedua mataku, menikmati indahnya hasil karya Tuhan Sang Maha Indah. Wajahmu yang ramah, matamu yang kecil dan sayu, bibirmu yang tipis, dan pipimu yang merah dan merona, tak ayal telah membuatku amnesia sesaat lamanya. Lima puluh tiga detik kumemandangmu, lupalah sudah hendak kemana tadi tujuan sepedaku berarah. Engkau lewat begitu saja, tidak angkuh tak jua peduli padaku, sang pria bersepeda biru tua. Aku tau engkau sempat melirikkan kedua mata, meskipun hanya sekejap saja, namun jeli tatapanku yang sedari tadi tak lepas darimu mampu menangkapnya. Seketika itupun engkau memalingkan muka, entahlah mungkin semacam tak enak rasa. Kuhela nafas sesaat, jantungku berdebar cepat, ada gelisah yang kurasa-rasa membuncah kuat. Engkau telah berlalu, kini hanya aku dan sepedaku, dan juga lampu pertigaan yang ternyata telah hijau. Segera kukayuh saja sepeda tua ini, berlari sekencangnya lari, namun sambil aku berdoa dalam hati ini, semoga aku kan bertemu dengannya lagi.

Tiga hari berlalu:
Sore ini, aku baru saja menyelesaikan ujian yang paling kutakuti. Mata kuliah yang paling susah. Kuambil sepeda di parkiran kampus tercinta, kukayuh perlahan menuju tempat tinggalku berada. Sesampainya di simpangan jalan Roddick, sepeda kuputar balik, aku berubah pikiran dalam beberapa detik. Aku ingin menyendiri barang sebentar saja, menenangkan hati yang tetiba gundah gulana. Kuarahkan sepeda ke arah Old Town, tempat dimana orang-orang biasanya duduk-duduk sambil ngobrol dan nonton. Kuparkirkan sepedaku di salah satu outlet kopi, kuingin duduk-duduk menikmati secangkir espresso dari negeri sendiri yang ternyata banyak dijual disini. Setelah kubayar beberapa lembaran dollar, kuambil kursi disudut paling belakang, dimana tak ada orang berseliweran, memojok sambil memandangi sekitaran. Di luar sana hujan rintik-rintik, airnya bergelombang, angin pun bertiup pelan, menambah dinginnya suasana di jalanan. Untunglah aku sudah mendarat di tempat yang nyaman dan hangat. Kubuka tas kecilku, kuambil laptop saja untuk menulis sambil mengisi waktu. Kulihat mendung diatas sana, hujan turun dengan deras seperti ada yang sedang memerah awan dengan keras. Kualihkan pandanganku ke layar laptop, kumulai mengetik satu demi satu kalimat tanpa kutau apa yang akan kutulis. Kuketikkan saja kata demi kata, biarlah mereka yang merangkainya dengan irama. Pikiranku tak jua bisa fokus, seperti ada masalah dalam hati yang masih terbungkus. Entah apakah karena ujian tadi yang tak kurasa begitu bagus, ataukah karena pertemuanku kali itu denganmu yang begitu membuatku merasa sesuatu. Ah, entahlah, kulanjutkan menuliskan apa saja.

Friday, December 5, 2014

Pentingkah mengucapkan 'Terima kasih, Permisi, dan Maaf'?


Malam itu saya baru saja memarkir sepeda di halaman parkir CUPPA Hall karena ada kuliah di gedung tersebut. Cuaca sebenarnya tidak cukup dingin (untuk ukuran Chicago) yang pada waktu itu hanya sekitar 2 derajat  celcius, tapi karena saya bersepeda dan mengenakan coat dan sarung tangan yang tidak terlalu tebal, tiupan angin di kota yang terkenal dengan sebutan the Windy City ini cukup membuat saya menggigil dan nafas saya ngap-ngapan karena Asthma. Saya segera berlari menuju pintu karena ingin merasakan udara hangat. Ketika jarak kurang lebih 10 meter menuju pintu, tiba-tiba keluar seorang mahasiswa. Dia berdiri sebentar di depan pintu, saya kira sedang menunggu teman, tapi begitu saya mendekat dia memberi kode lalu membukakan pintu buat saya. Saya sangat berterima kasih dan tidak lupa mengucapkannya sambil memberikan senyum. Satu perbuatan kecil yang sangat berarti sore itu saya dapatkan. Kemudian saya beranjak naik ke lantai 2 di laboratorium komputer karena kelas baru dimulai 20 menit lagi. Pukul 5.57pm saya keluar dari laboratorium dan menuju ke ruangan 2236 tempat saya kuliah. Ketika keluar dari ruangan komputer, saya lihat ada seorang mahasiswi hendak masuk melalui pintu yang sama. Terinspirasi dari kebaikan mahasiswa sebelumnya kemudian saya pun rela menunggu beberapa detik dan menahan pintu agar tetap terbuka dan mempersilakan mahasiswi tersebut masuk. Dia pun tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih. Bukan hal besar yang bisa saya perbuat tapi bisa begitu membuat bahagia karena bisa membantu orang lain meskipun dalam hal yang sangat kecil. Saya sangat berterima kasih kepada sang mahasiswa dibawah tadi karena dia yang telah berbuat baik kemudian mendorong saya untuk melakukan kebaikan yang sama. Alangkah indahnya kalau kita saling berbondong-bondong menyebarkan dan menularkan kebaikan, meskipun dari hal-hal yang terkadang kita anggap[ sangat remeh-temeh.

Sebenarnya budaya membukakan pintu atau tepatnya menahan pintu ketika kita baru masuk/keluar dari ruangan adalah hal yang lumrah disini. Begitu juga ketika kita naik bus kota, norma yang biasa berlaku disini adalah mengucapkan “thank you” kepada bapak atau ibu pengemudi bus. Ketika baru menjejakkan kaki di Amerika ini adalah salah satu culture shock  yang saya alami. Meskipun tidak semua orang melakukannya tapi hampir sebagian besar saya mengalami pengalaman seperti itu dan kemudian saya pun tak lupa untuk melakukan hal yang sama. Hal yang kecil namun menurut saya sangat berharga dan agak jarang saya temukan di negara sendiri tercinta. Tak lupa ketika ada orang yang melakukannya maka orang yang ditolong pun akan membalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih yang mungkin menurut kita tidak mendapatkan ucapan terima kasih pun tak masalah. Namun memberikan ucapan terima kasih, disini, adalah satu hal yang sangat perlu dilakukan. Berikut ceritanya.