Friday, April 19, 2013

Menghias Uang Mahar Sendiri

Bagi yang mau menikah pasti sedang asik memikirkan mahar apa ya kira-kira yang oke buat calon istri. Standarnya si seperangkat alat shalat, logam mulia, dan uang tunai. Nah untuk yang terakhir ini, kurang menarik sepertinya kalau uangnya tidak dihias sedemikian rupa. Gak lucu dong ngasi uang tunai sebagai mahar dalam bentuk lembaran-lembaran gitu aja.
Ada banyak kok penjual online mahar hias, bentuknya pun macam-macam mulai dari wayang, masjid, rumah gadang, boneka. Harganya bervariasi banget, dari 300 ribu hingga hampir sejutaan, tergantung bentuk yang kita mau. Tapi itu hanya harga jasa menghiasnya dan pigura saja loh ya, belum termasuk uang yang ada didalamnya. Jadi misalkan harga jasa+pigura mahar bentuk masjid adalah Rp400.000,00 dan kita mau memberikan mahar uang tunai semisal sebesar Rp311.313,00 berarti total biaya pembuatannya adalah Rp713.313,00.

Hiasan mahar hasil karya sendiri :)
By the way, sebenarnya membuat mahar hias seperti itu sebenarnya tidak terlampau susah kok. Hal ini sudah saya coba sendiri kok. Berawal dari rasa penasaran setelah melihat-lihat penjualan mahar hias online di internet akhirnya saya memutuskan untuk membuat sendiri hiasan mahar uang tunai untuk pernikahan saya sendiri. Sempet takut juga sih kalau-kalau hasilnya kurang bagus atau bahkan sama sekali tidak jadi. Tapi Alhamdulillah jadi juga meskipun mungkin tidak sebagus mahar hias yang dirakit oleh para profesional di bidang penghiasan mahar #halah. Dengan mahar hasil hiasan sendiri rasanya lebih puas deh, kerasa banget perjuangan buat hunting bahan, menghiasi satu-satu, sampai deg-degan kalau-kalau rusak atau copot-copot pas mau diserahin. Istri pun suka ngeliatnya #ihiirr.

Saya share deh pengalaman membuat mahar hias kemarin, begini ceritanya #nyimak :

Alhamdulillah saya baru saja menikah kemarin, akad pada tanggal 29 Maret 2013. Kalau disingkat-singkat maka tanggalnya menjadi 290313 dan jika dirupiahkan maka dia menjadi Rp290.313,00,. Sebelumnya tidak terfikir mau memberikan mahar uang tunai juga karena sudah ada yang lain, tapi pas iseng-iseng browsing ternyata lucu juga ngasih mahar dari hiasan uang tunai. Kemudian terbersitlah rencana untuk membeli hiasan mahar ini di internet, banyak banget penjualnya dan juga harganya bervariasi. Sudah sempat berhubungan dengan beberapa penjual mahar juga, katanya dibutuhkan waktu kurang lebih 1-2 minggu untuk membuat dan mengirimkannya. Karena sekian lama browsing melihat-lihat bentuk mahar hias ini, tiba-tiba kepikirain apakah susah membuat hiasan macam ini?, jadi penasaran dan tertantang untuk membuat sendiri, dan juga mikirnya istri bakalan lebih surprised dengan hasil karya tangan suami sendiri #ciee.

Setelah mempertimbangkan ini dan itu, akhirnya memberanikan diri untuk membatalkan pesanan mahar hias ke salah satu penjual di Jogja #maaf. Kebetulan waktu itu masih punya waktu luang sisa training di Jakarta sebelum kembali ke Bengkulu, jadi bisa dimanfaatkan untuk memulai hunting barang-barang yang kira-kira dibutuhkan untuk membuatnya. Waktu itu saya berencana membuat mahar hias berbentuk rumah gadang, dan setelah dipikir-pikir, kira-kira saya membutuhkan pernak-pernik sebagai berikut :

1.Uang tunai :
Pecahan berapa aja terserah, dikira-kira kita butuh berapa banyak untuk model yang akan kita buat. Waktu itu saya membuat rumah gadang dengan uang sebesar Rp290.313,00 jadi saya memutuskan untuk membuatnya dengan banyak pecahan Rp20.000,00 dan yang lainnya dengan rincian seperi ini : 14 lembar uang Rp20.000,00 + 2 lembar uang Rp5.000,00 + 1 keping uang Rp200,00 + 1 keping uang Rp100,00 + 2 keping uang Rp5,00 + 3 lembar uang Rp1,00 = Rp290.313,00.
Lalu bagaimana cara mendapatkan uang lembaran yang masih bagus?
Mendapatkan uang lembaran baru tidak susah kok, dari hasil nanya-nanya teman yang bekerja di bank, kita bisa menukarkan uang kita sesuai dengan kebutuhan pecahan yang diinginkan, misalkan pecahan Rp100.000,00 sampai pecahan Rp1.000,00. Alhamdulillah waktu itu saya sangat beruntung, ketika sedang galau mau menukarkan uang dimana dan berapa tiba-tiba melihat ATM pecahan Rp20.000,00 disekitar Jalan Sabang sehabis foto untuk Visa. Sebelum mengambil uang disitu sempat menanyakan dulu ke orang yang terlebih dulu menarik uang, dan ternyata pecahan uangnya masih baru-baru dan wangi, langsung aja deh tarik uang seperlunya dan disimpan baik-baik biar gak kelipet-lipet. Oh iya, kalau tidak salah menukarkan uang di Bank Indonesia juga bisa kan ya, seperti kalau kita nukar uang pecahan kecil pas mau lebaran.
Lalu bagaimana cara mendapatkan pecahan uang Rp5,00 dan Rp1,00?
Untuk yang ini memang gampang-gampang susah, sebenarnya kalau mau beli online ada banyak banget kok, tapi ya itu harganya memang terkadang lumayan tinggi. Kalau mau yang lebih murah saran saya sih coba cari di pasar-pasar tradisional, cari di lokasi yang menjual barang-barang loakan (bekas), biasanya ada banyak juga yang jual-jual uang yang sudah tidak beredar. Saya kemarin juga menyempatkan diri untuk mencari kesana kemari, sempat nanya ke tukang parkir juga, dia sempat punya tapi sudah dijual, lalu menyarankan saya untuk mencari ke tukang loak di pasar, dapet deh. Untuk setiap Rp1,00 dihargai Rp15.000,00, sedangkan untuk setiap keeping Rp5,00 diberi harga Rp3.000,00 lumayan banget, cuma uangnya tidak semulus kalau kita beli online sepertinya. Oiya, bagi yang berdomisili di Jogja bisa didapatkan di Mirota Batik (Malioboro), kalau di Jakarta sepertinya paling terkenal di Passer Baru sana ya.

2.Background :
Untuk background saya menggunakan kertas kado yang mengkilap dan bertekstur dengan warna pink tua. Sepertinya bisa juga dengan kertas karton, kain, atau bahan semacamnya, yang penting bisa direkatkan dengan lem atau double tape.

3.Peralatan-peralatan kecil :
Seperti saat kita membuat kerajinan tangan yang lain, perlu juga disiapkan gunting, cutter, lem kertas, lem castol, penggaris, pensil, ballpoint, double tape, selotip, dsb.

4.Pernak-pernik :
Tergantung desain kita mau bagaimana, kemarin saya menggunakan bahan-bahan seperti kain perca, hiasan manik-manik, hiasan daun kertas, serta tinta timbul (untuk membuat tulisan dan hiasan garis tepi). Kain perca dan manik-manik bisa didapatkan di took-toko yang menjual perlengkapan jahit-menjahit kok, bahkan saya kemarin sempat mendapatkan beberapa manik-manik di Toko Buku Gunung Agung juga. Tinta timbul mungkin rada susah carinya ya, tapi bisa coba dicari di took-toko buku, kemungkinan besar ada disana.

5.Pigura :
Ini gampang banget carinya, bisa membeli pigura langsung jadi di studio foto (biasanya dari plastik), atau kalau mau bisa juga memesan pigura kayu di tukang pigura. Sepertinya pigura kayu lebih mahal dan tentu saja lebih berat.


Peralatan dan pernak-pernik yang kita butuhkan.

Kalau semua bahan itu sudah tersedia, sekarang tinggal memulai untuk membuatnya. Pertama-tama jelas kita harus mencari ide dan menentukan bentuknya, cari saja di internet ada banyak contoh hiasan mahar. Potong kertas dasar sesuai ukuran kita inginkan untuk dipigura nanti, membeli pigura terlebih dahulu lebih memudahkan kita untuk mengkira-kira seberapa besar hiasan kita nantinya. Sebagai contoh misalkan kita mau membuat bentuk rumah gadang, download saja gambar dari internet, lalu print gambar rumah gadang seukurang kertas A4 untuk dijadikan pola. Potong sesuai dengan bentuk pola rumah gadang tersebut, lalu tempelkan di kertas dasar yang akan dijadikan tempat kita menempel lipatan uang.

Ambil uang pecahan Rp20.000,00 lalu lipatlah mengikuti bentuk atap rumah gadang, rada gampang-gampang susah memang dalam proses melipat ini. Lipatan bisa diperkuat dengan selotip biar gak lepas. Oiya, jangan merusak uang dengan mengguntingnya ya, itu melanggar hukum loh. Setelah bagian atap selesai, kemudian lanjutkan dengan bagian-bagian lain, misalkan tiang rumah. Lipat aja pecahan uang kertas yang lain, sesuaikan jumlah uang yang ada dengan kebutuhan bentuk yang bisa diisi dengan lipatan uang. Uang-uang yang sudah dilipat kemudian diberi double tape untuk direkatkan ke gambar pola yang ada. Untuk uang receh bisa diletakkan di area-area yang kosong, bisa dilapisi dengan kain perca, melekatkannya bisa dengan doble tape juga. Apabila sudah, lalu ambillah kain perca, potong-potong sesuai dengan kebutuhan. Misalkan sebagai garis yang mempertegas gambar atap, tiang, dsb.

Kalau bagian-bagian tersebut sudah selesai, tinggal memberikan hiasan pernak-pernik yang ada. Misalkan manik-manik bintang, daun-daunan, membuat bunga-bungaan dsb. Pernak-pernik ini bisa direkatkan dengan menggunakan lem castol atau double tape. Terakhir bisa menggunakan tinta timbul untuk menghiasnya dan membuatnya lebih berwarna, atau juga bisa untuk membuat tulisan pada bagian-bagian yang masih kosong.

Biarkan tempelan-tempelan tersebut merekat dengan sempurna selama beberapa jam. Apabila ada kesalahan atau belum puas bisa dilakukan editing, tapi harus pelan-pelan ya melepas bagiannya satu persatu agar tidak rusak seluruhnya. Setelah semua selesai, hasil prakarya bisa dimasukkan ke dalam pigura, atau dibawa ke tukang pigura untuk dipasangi pigura kaca permanen.
Mudah bukan, coba deh sesekali membuatnya,bangga loh bisa membuatnya sendiri, dan kalau mau iseng-iseng terima orderan kan lumayan juga ya daripada lumanyun.
Selamat berkarya!!

Salam,

Frochadi

Lebong;19/4/2013-14.38WIB

8 comments:

  1. lah wis nang bengkulu taaa???

    ReplyDelete
  2. Great.. Kreatif, two thumbs for u
    Hmm..baru ngeh pas di Salemba kamu bilang Let see..haha ternyata haha.. Selamat ya..

    ReplyDelete
  3. Hehe iya li,mumpung byk waktu luang juga kemaren :D
    Haha masih inget aja deh,diem2 biar surprise gitu #halah

    ReplyDelete
  4. halllooo....salam kenal ya, nice blog.....
    tetep produktif dengan ide-ide kreatifnya bro....

    ReplyDelete
  5. Hei Mas salam kenal
    Btw mau tanya neh, itu cara nempelin uang ke piguranya bagaimana? biar gak rusak uangnya. Apa disolatip dulu baru ditempelin atau bagaimana? :D
    Thank u buat info nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mbak Yanis,

      Membentuk uangnya dengan diselotip karena uang tidak boleh digunting. Nempelin uangnya ke layar pakai double tape aja, tidak rusak kok.

      My pleasure. :D

      Delete